"Inspirasi SeBening Embun"
  • Home
serpihan daun yang gugur meninggalkan kisah sepotong hati yan tak lagi utuh. sepenggal hati yang tersudut dan tak tahu bagaimana caranya kembali menyatu dengan hati yang utuh sesungguhnya.

ini tentu saja bukan posisi yang indah teman, saat sepotong hati ini tak tahu arah hendak kemana.

dalam sebuah perjalanan hidup
disetiap episode kisahnya
disetiap detik yang dilalui
disetiap putaran jam yang bergerak
dalam setiap detak jantung yang berdegup
dalam langkah-langkah ini...
entah kapan kita akan berjumpa dengan seseorang yang mampu mengambil, emungut sepenggal hati yang tersudut... namun sekali lagi tetap tak mampu bersatu.

izinkan sepenggal hati ini disimpan dalam diam
meski sang pemilik hati telah ada yang memiliki...
boleh jadi tidak utuh
tapi mungkin akan lebih baik seperti ini
seiring waktu ia akan terkikis dari ruang penyimpanan, entah tergerus dengan aliran darah atau terhimpit dengan timbunanlemak.
tapi untuk saat ini..
saat ini
izinkan ia tetap ada disudut sana meski hanya sepenggal
yang bisa jadi tak berarti
sebagai wujud
sebagai bukti
bahwa pernah ada yang singgah dan menyisahkan sepenggal hati yang meredup disudut ini
dalam setiap pernikahan yang dibangun tentulah anak menjadi impian banyak rumah tangga... ada mungkin ada, denga presentase yang sangat minim 0,000 bisa jadi yang tidak menginginkan anak dalam rumah tanga yang dijalanai. sebagian besar akan berprinsip bahwa anak ialah amanah dan anugerah, berapapun yang di Anugerahkan ALLah akan diterima, sebagian lagi mengatur jarak kelahiran dan sebagian lagi benar2 melakukan program untuk urusan ini.

anak adalah amanah yang acapkali menjadi korban,,, korban keinginan orangtua atau korban cita-cita orangtua yang tidak terwujud yang kemudian dipaksakan kepada anak untuk mewujudkannya
ada lagi orangtua yang melakukan pengabaian terhadapa anak baik disadari maupun tidak disadari
ada yang benar-benar menjaga
ada yang bahkan dengan tega membuang
dan ada banyak lagi kisah lainya

saat banyak mendengar
saat itu kau akan tahu
bahwa ada banyak pilihan dalam hidup yang acapkali kita belum sempat memilihnya namun,,, lingkungan dengan jumawa nya menetapkan pilihan
Ikhlas sering dimaknai tanpa balasan... free ... bebas dari unsur-unsur imbalan. tanpa pamrih.
tapi tahukah teman teman yang baik.... ikhlas saja belum lah cukup jika tidak dibarengi dengan istiqomah menjaga ikhlas tersebut dan satu hal yang paling penting ialah ikhlas juga harus pada hal yang baik
dan untuk yang baik, tentu masing - masing kita memiliki tafsir yang berbeda-beda. namun yang jelas ni all... ikhlas akan sangat ruarrr biasa bila dibarengi keikhlasan itu pada ha-hal kebaikan.

yukkk sama sama belajar ikhlas dan berlomba seta bangga menjadi orang baik :) 
Sttt.....
kamu tahu ...
satu kata ini  ...
Ia menyesakkan seperti melihat Tembok dinding kamar tanpa warna.... membisu
Ia menyisahkan angan seperti menatap langit-langit kamar tanpa ada cahaya bintang gemintang
Ia berputar tanpa arah seperti kipas angin kamar yang terus saja berputar meski acapkali tak membuat suasana berubah
Ia seperti tumpukan buku yang menanti untuk dibaca, digaris bawahi kemudian dianalisis
Ia seperti lembaran kertas yang berserakan dilantai, menanti utuk disatukan dengan rapi
Ia seperti Laptop merah fanta cantik ini yang menanti untuk berselancar dalam fitur fitur indah
Ia seperti daun yang gugur yang tak punya lagi daya dan kehilangan tujuan
Ia seperti ranting patah yang tiada punya kemampuan lagi untuk menyatu dengan sang pohon

arghhhh
ini hanya perkara 
SATU KATA
Ia satu kata....
yang mampu melejitkan potensi
atau justru mematikan imajinasi
yang mampu memompa semangat
atau justru mematikan kemampuan diri

hemmm
ini hanya perkara
SATU KATA
yang iapun hanya bisa dibayar dengan
SATU KATA :)

tapi ....
:) 
JANGAN KHAWATIR
HARUS TETAP BAHAGIA
jika masih berpijak pada bumi yang sama
jika masih bernaung dibawah langit yang sama
maka itu artinya
kita masih harus terus 
BERSYUKUR
kita masih bisa membunuhnya
dalam Satu cara yang sama
kita masih bisa bersua
dalam DOA Doa yang sama 
yang akan bertemu diantara bumi dan langit
untuk sama sama mengetuk pintu langit
menuju pada Sang Khalik
teruslah bersama bermunajat

:(
untuk mewujudkan MIMPI
kita harus membayarnya dengan Jarak
untuk menembus cita
kita harus berdamai dengan kondisi

jangan cemas
ini hanya perkara
SATU KATA

satu kata
yang tak melulu harus berujung temu
yang tak melulu perkara kamu dan aku
yang tak melulu tentang keegoisan

tapi ini perkara
bagaimana kita menguatkan pundak masing-masing
untuk bisa saling menopang.
menyiapkah bahu masing masing untuk kuat 
jika lelah menghampiri
menyiapkan ruang hati
untuk terus saling memotivasi
menyiapkan segudang rasa
untuk nanti bisa saling meleburkan

ini hanya perkara 
SATU KATA
Rindu
untuk kamu 
+Bang Hardi 


ahhh
kamu tahu kan bagaimana rasanya bermain hati...
kamu tahu kan bagaimana rasanya tiba-tiba darah mengalir dengan deras
degup jantung yang semakin kencang
keringat dingin
kikuk
dan keanehan lainya
yang tidak tahu penyebabnya....
semoga semua itu pertanda baik
bukan karena kena virus merah jambu yang kita belum mampu melawanya
yang kita belum punya imun untuk menjadikanya netral.

kamu tahu....
saat rasa itu pernah hadir
lalu kemudian berlalu
dan tiba-tiba ada hal yang tiba tiba hadir dan mengusik
ya
rasa kepo
pengen tahu
hanya sekedar ingin tahu
ingin tahu perihalmu
ya
perihal
Bagaimana Kabarmu ....
hanya itu...

namun sebagian orang lagi akan ke gran berasa masih ada sisa
masih ada serpihan-serpihan yang tersimpan rapi...
begitulah....

boleh jadi
baru sebatas move on
belum move off
sehingga pertanyaan bagaimana kabarmu itu selalu hadir

bukan rasa ingin tahu itu juga patut dipertanyakan.....

terus jika sudah tahu mau apa....
baper kan jadinya
:D :D ;D
WKWKKKW

maanusia memang acapkali kalah dengan logika
saat rasa yang terlalu dominan

berhentilah
berhentilah
Allah tidak menyukai ini

bangkit dan buang semua rasa kepo kepo tidak jelas itu saudariku....
biarkanlah ia larut dan mengalir bersama derasnya air hujan yang membasahi bumiii

yakinlah Allah akan menggantinya dengan yang jauhhhh lebih baik
Diam ....
terlalu sulit unutk didefenisikan.
tapi yang jelas diam tidak berarti kita menarik diri dari sekitar.
acapkali kita berada dilingkungan yang ramai dan kita saling mengenal satu sama lain.... namun tetap saja diam menjadi pilihan.

dalam setiap kesempatan untuk memilih atau melakukan suatu tindakan biasanya akan ada banyak pertimbangan yang masing masing orang terkadang berfikir dengan ringan namun sebagian lagi memerlukan waktu yang lama...

saat memilih diam pun juga begitu...
diam itu saat merasa menyukai atau membenci sesuatu
saat tak ingin mengikuti arus atau yang lainya

sebagian dari kita juga kadang memilih diam
yahhh karena sedang ingin diam saja...
tanpa perlu alasan.

diam juga menjadi alternatif yang paling ampuh saat kamu disudutkan dengan banyak peroalan
saaat seolah-olah semua tuduhnan ada bersama kamu
saat semua kesalahan dibebankan kepundakmu
ya
semuanya
dan kamu tidak punya pilihan sama sekali untuk melakukan pembelaan atau pembenaran

maka diam menjadi pilihan yang paling bijak pada saat itu.
biarkan orang sekitarmu menilai dibalik diam mu.


lalu...
bolehkah memilih diam saat terjadi keburukan disekitar?
jika tak mampu... maka selemah-lemah iman iyalah dengan mendoakan dalam diam...
diam diam mendoakan,
tentu saja mendoakan dalam perkara yang baik baik.
doa yang dilakukan dengan ikhlas untuk kebaikan orang lain secara diam-diam
menjadi doa yang tanpa disadari sejatinya juga mendoakan diri sendiri.

maka mulailah diam-diam berdoa.
jangan hanya memilih diam tanpa bertindak,
karena dalam diam sekalipun kita masih bisa saling berbagi,
iyaaa berbagi doa.


Assalamualaikum nak...
dear ananda bunda yang tersayang...
hari ini usia mu 5 tahun 4 bulan. semakin bertumbuh fisik dan perkembangan imajinasimu nak.
sudah semakin banyak pula yang bunda harus pelajari tentang tumbuh kembangmu. sudah mendekati fase akhir balihmu nak. yach menjelang 7 tahun sudah. ada rasa cemas dan khawatir menyelimuti. sanggupkah bunda dan ayah mendidik dan membimbingmu untuk memahami bahwa pada usia tersebut ananda sudah punya kesadarn kemandirian sendiri sebagai seorang muslim.

bunda menyadari betul ada mase perkembanganmu yang tak mampu bunda dampingi... fase emasmu yang bunda lewakan karena pilihan yang sudah diputuskan. semoa kelak engkau mengerti nak, dan mau memaafkan ayah dan bunda atas semua pilihan yang kami putuskan bersama.

dear mas Fatih yang sebentar lagi akan menjadi kakak. tepat saat usia ananda nati 5,5 tahun. tumbuhlah menjadi kakak yang bisa jadi suritauladan untuk adik-adikmu ya nak. bunda dan ayah menyanyangimu dengan sepenuhnya. bunda dan ayah menumpuhkan banyak harapan kebaikan atasmu ananda. iyahh dipundakmu ananda bunda.

bertumbuhlah dengan banyak kebaikan ya nak....
peluk cium bunda dari jauh nak..
semoga cukup didunia saja kita LDR... semoga nanti diakherat Allah menyatukan kita di surganya.

maka jika ada keromantisan yang indah adalah romantisme dalam merindui berjumpa dengan mu dan ayah.
romantisme merindu untuk segera berkumpul bersama.
😓😓😓😓😓
Berat ya....
Ah main api emang bakal nimbulin asap.
Mau dipadamkan juga tetep meninggalkan asap n abu.
Sama sama sisa yg memilukan 😆😆😆😆.
Pahittttt. Butuh hujan dg intensitas yg luar biasa untuk menghapusnya....
Untuk membuatnya hilang tak bersisa.

Ibarat menanam rasa .... udah tumbuh tempat menanam ... eitsss yg menanam malah lupa.

Sakitnya 
Buanget man.
Perihnya itu ngalahin luka memar yg di derita ibu hamil.

Melenggang seolah g terjadi apa apa
Harus kuat.

Kadang rasa itu kejemmmmm banget ya.

Beuhhhhhh nengalahkan kejamnya sembilu untuk khitan seorang muslim

Itu kenapa jika belum mantab jangan coba menanan.... entah apalah itu namanya.
Perrmpuan ... rasa yach paling sensi.
Mainnya perasaan man.... bukan logika.
Bisa seumur hidup menancapkan sakit hatinya.
Kebawa mati malah.

Arghhhh .... perempuan
Kuat sih....
Tapi tidak untuk masalah hati.
Kuat sih ....
Tapi tidak untuk berbagi
Kuat sih ....
Tapi tidak untuk ... soal kesalahan lelaki.

Jangan kira bakal seperti membalik telapak tangan
Nggak banget man.

Jangankan dengan yg nanemin dan numbuhin rasa
Dengan sahabat karib aja bisa begitu.

Kalo istilah biologi 
Yachhhh biarin dah tetep jadi RNA dari pada buru buru jd DNA kemudian dilepasin g jelas.
Atau bermain citra layaknya panggung politik. 😜😜😜😜😜.

Laki laki....
Jangankan di dunia nyata
Dalem rahim aja udah bisa PHP
😔😔😔😔😔😔.

Menyembunyikan aurat dg melipat.... dikira perempuan. Pas lahir lelaki.
😂😂😂😂😂.
Jadi yo wesss gitu. 

😅😅😅😅😅😅



Jadilah seperti Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun.
Jadilah laksana Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.
Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.

Duhai ananda Bunda Muhammad Fatih Ath-Thabari


#doacopasfbTikaDwiLestari





UN kebijakan manusiawi atau Tidak ?
Oleh : Merri Sri Hartati

 “Jangan menilai ikan dari cara ia memanjat pohon,
 jika demikian ikan tersebut akan merasa bodoh seumur hidupnya “
(Albert Einstein)
“ Padi tidak akan pernah dapat menghasilkan gandum” (Ki Hajar Dewantara)

            Manusia adalah makhluk hidup yang paling dinamis di muka bumi ini, selalu menciptakan hal-hal yang baru serta belajar pula hal-hal yang baru. Dalam pandangan agama Islam, manusia diciptakan dengan tujuan yang begitu luar biasa, menjadi Khalifatullah (Wakil Tuhan) diatas muka bumi ini. Dalam pandangan Kristen, manusia adalah citra Tuhan di muka bumi ini. Setidaknya semua agama bersepakat bahwa manusia diciptakan dengan sebuah tujuan yang besar, bukan sebuah kebetulan tanpa tujuan dan tanpa arah. Maka sejatinya pendidikan adalah sarana untuk mengarahkan manusia menjadi khalifatullah ataupun citra Tuhan yang baik di muka bumi ini. Atau secara ringkasnya tujuan pendidikan harus sejalur dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi.
            Kita manusia yang beriman pasti tahu bahwa Tuhan yang kita sembah apapun namanya adalah suatu entitas yang Maha Sempurna dan ia tidak pernah menciptakan sebuah produk gagal. Sesuatu yang kita pandang sebagai sebuah kegagalan atas ciptaan-Nya adalah kegagalan kita dalam memahami produk ciptaannya. Maka jika kita berangkat dari premis ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Hal ini disetujui oleh ilmuwan besar abad ini, Albert Einstein. Setiap anak cerdas, namun kitalah yang bodoh untuk menemukan dan memunculkan kecerdasan mereka.
            Howard Gadner, seorang sarjana dari Harvard university menyatakan bahwa manusia memiliki banyak kecerdasan dalam dirinya. Setidaknya ada delapan kecerdasan yang ia tuliskan diantaranya adalah : kecerdasan bahasa, kecerdasan musik, kecerdasan intra-personal, inter-personal, kecerdasan kinetik, kecerdasan sosial, self inteligence dan kecerdasan visual. Ketika kita bertanya mana yang lebih pintar Erwin Gutawa atau Habibie ? maka kita akan menjawab Habibie lebih pintar daripada Erwin Gutawa. Mengapa ? karena mindset kita dari zaman dulu sudah terbentuk seorang yang pintar adalah orang yang ahli dalam matematika dan logika. Padahal kita tahu Erwin Gutawa juga cerdas namun dalam bidang yang berbeda dengan Habibi yaitu musik.
            Celakanya inilah yang diadopsi oleh pengambil kebijakan kita dalam bidang pendidikan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional. Beberapa pelajaran dijadikan tolak ukur manusia itu sukses atau tidak, bodoh atau tidak, gagal atau tidak. Tentu saja ini tidak fair. Hal ini mengakibatkan mata pelajaran yang di UN kan mendapatkan porsi atau jam pelajaran yang besar. Sedangkan mata pelajaran seperti Seni dan Prakarya hanya mendapatkan jam pembelajaran yang sedikit sekali. Anak dijejali dengan berbagai macam ragam ilmu yang mungkin ia tidak tahu untuk apa ilmu ini di masa depan, dijejali dengan berbagai macam ragam teori seolah teori yang ia hafalkan itulah yang menjadi penentu masa depannya. Di sisi lain kita abai dengan hal yang paling urgen dalam pendidikan kita yaitu karakter. Karakter inilah yang lebih banyak menentukan sukses ataukah tidak anak didik kita selepas ia menjalani pendidikan nanti, bukan berapa banyak ilmu yang dihafalkannya yang kemudian lenyap tak berbekas.
            Maka penting sekali sebenarnya merenung kembali tentang pendidikan di Indonesia bukan dari UN nya justru dari hulu segala masalah yaitu apa hakikat pendidikan di Indonesia. Percayalah, dari buku setebal ratusan jilid yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara tidak akan kita temukan ukuran kesuksesan pendidikan adalah akademik belaka. Sebaliknya Ki Hajar lebih menekankan pada penanaman karakter siswa yang baik berbasis pada kearifan budaya ? jika bukan Ki Hajar yang kita ikuti dan kita dapuk sebagai Bapak pendidikan bangsa ini sesungguhnya siapa yang kita ikuti ?
            Pemerintah mengadakan UN setidaknya dengan berbagai macam alasan. Diantaranya adalah : (1) mengukur pencapaian hasil belajar siswa, (2) mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah, dan (3) mempertanggungjawabkan penyelenggaran pendidikan secara nasional, provinsi, kabupaten/kota, sekolah, kepada masyarakat. (Kartowagiran, 2005 : 8). Dalam PP. no. 19/2005, Pasal 68 disebutkan bahwa hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (i) pemetaan mutu program dan/satuan pendidikan (ii) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (iii) penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, dan (iv) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.(Asiah & Ainur Rofiq, 2011 : 76).
            Secara garis besar kebijakan mengenai Ujian Nasional, tertuang dalam peraturan-peraturan berikut ini :
1.      Keputusan Mendiknas Nomor 012/U/2002 tentang Sistem Penilaian di Sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa Tingkat Dasar, dan Madrasah Ibtidaiyah pasal 3 ayat (1) menyebutkan bahwa jenis penilaian di sekolah terdiri dari penilaian kelas dan ujian. Dalam ayat (3) disebutkan bahwa penilaian dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan/praktek, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja siswa (portfolio). Selanjutnya dalam ayat (4) pasal 3 itu juga dijelaskan bahwa penilaian kelas dan ujian meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.      Dalam ayat (2) pasal 58 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan 4 bahwa evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.
3.      ayat (3) pasal 3 Kep. Mendiknas Nomor 012/U/2002 yang menyatakan : Penilaian dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan/praktek, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja siswa (portfolio).
4.      ayat (1) pasal 58 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. (Kartowagiran, 2005 : 3-4)
      Ciri-ciri yang harus dimiliki setiap kebijakan, menurut Terry adalah bahwa setiap kebijakan yang ditetapkan haruslah:
a)      Jelas rumusan dan batasbatasnya (clarity);
b)       Luwes dalam penggunaan (flexibility), namun tidak melanggar prinsip;
c)      Konsisten (consistency), konsekuen, tidak berubah-ubah;
d)     Individualitas (individuality), Dalam arti setiap kebijakan hanya untuk memecahkan masalah tertentu saja.
(Terry  , 1963 : 187)
            Kebijakan pemerintah merupakan suatu kerangka yang di dalamnya terdiri dari keputusan-keputusan. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kalau perlu dalam pelaksanaannya dapat dipaksakan. Adapun proses analisis kebijakan dilakukan secara bertahap melalui:
a.       Perumusan kebijakan (policy formulation)
b.      Pelaksanaan kebijakan (policyiimplementation)         
c.       Penilaian kebijakan (policy evaluation)
d.      Pengakhiran kebijakan ( Ibnu Syamsi dalam Asiah dan Asiah & Ainur Rofiq, 2011 : 79)
            Dalam Studi Analisis Kebijakan Publik, maka salah satu cabang bidang kajiannya adalah Evaluasi Kebijakan. Mengapa Evaluasi Kebijakan dilakukan, karena pada dasarnya setiap kebijakan negara (public policy) mengandung resiko untuk mengalami kegagalan. Abdul Wahab mengutip pendapat Hogwood dan Gunn (1986), selanjutnya menjelaskan bahwa penyebab dari kegagalan suatu kebijakan (policy failure) dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: (1) karena “non implementation” (tidak terimplementasi), dan (2) karena “unsuccessful” (implementasi yang tidak berhasil). (Wahab, 1990 : 47-48)
            Tidak terimplementasikannya suatu kebijakan itu berarti bahwa kebijakan itu tidak dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan. Sedangkan implementasi yang tidak berhasil biasanya terjadi bila suatu kebijakan tertentu telah dilaksanakan sudah sesuai rencana, dengan mengingat kondisi eksternal ternyata sangat tidak menguntungkan, maka kebijakan pendidkan tersebut tidak dapat berhasil dalam mewujudkan dampak atau hasil akhir yang telah dikehendaki. Biasanya kebijakan yang memiliki resiko untuk gagal disebabkan oleh faktor-faktor diantaranya: pelaksanaannya jelek (bad execution), kebijakannya sendiri itu memang jelek (bad policy) atau kebijakan itu sendiri yang bernasib kurang baik (bad luck). Adapun telaah mengenai dampak atau evalausi kebijakan adalah, dimaksudkan untuk mengkaji akibatakibat dari suatu kebijakan atau dengan kata lain untuk mencari jawaban apa yang terjadi sebagai akibat dari pada “implementasi kebijakan”. (Wahab, 1990 : 62)
            Dalam hal Ujian Nasional (UN), pemerintah secara tekhnis memandang dari angka – angka yang disodorkan dan hanya berfokus pada input data yang masuk mengenai hasil Ujian Nasional. Namun pemerintah seringkali abai dengan melihat proses menuju Ujian Nasional, sehingga Ujian Nasional dipandang sebagai titik puncak pendidikan yang menentukan sukses atau tidak anak didik.  Padahal tujuan sesungguhnya adalah evaluasi pendidikan secara menyeluruh termasuk dalam tahap proses. Kebijakan UN memberikan pressure terhadap kementerian Pendidikan Nasional yang kemudian berimbas pada Diknas kota, kepala sekolah dan berakhir pada guru. Hal ini terlihat dari kecurangan-kecurangan yang terjadi di lapangan dimana menyebarnya kunci Ujian Nasional serta munculnya tim “pensuksesan” Ujian Nasional di masing-masing sekolah. Di sisi lain, guru melakukan pengkatrolan nilai raport siswa yang jelas-jelas hal ini merupakan perbuatan yang tidak fair. Jadilah Ujian Nasional yang awalnya merupakan evaluasi pendidikan berubah menjadi semacam pressure “harus sukses dengan cara apapun”. Belum lagi pelaksanaan Ujian Nasional yang bermasalah. Data mencatat di tahun 2014 pelaksanaan UN terkesan amburadul. Dimana soal Ujian Nasional terlambat dan kurang bahkan ada yang di foto Copy. Hal ini menyebabkan beredar luasnya kunci jawaban di tengah-tengah para siswa ( Rahmadi, 2014 : 3).
            Dari Keputusan Mendiknas Nomor 012/U/2002 pasal 3 ayat 1 dinyatakan bahwa penilaian tidak hanya berfokus pada ranah kognitif semata namun juga penilaian berdasarkan psikomotor dan afektif. Namun, bentuk tes adalah tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan/praktek, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja siswa (portfolio). Bisakah penilaian afektif diberikan berupa angka-angka ?. Maka menurut penulis terjadilah semacam paradoks. Dus, kenyataannya pun yang penulis temui di lapangan, guru lebih menguji kemampuan kognitif siswa daripada afektif siswa.
            Salah satu masalah dari Ujian Nasional adalah standarisasi pendidikan. UN tidak akan pernah ideal jika proses pembelajaran juga tidak ideal ( Rahmadi, 2014 : 1). Kondisi pendidikan di jakarta berbeda dengan kondisi pendidikan di Bengkulu, baik di tingkat sarana dan prasarana, kualitas guru dan proses pembelajaran yang berlangsung. Dengan kondisi seperti ini apakah akan disamakan standarisasinya ? Lalu jika UN dinilai mampu untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia, apakah ia mampu pula memetakan karakter siswa (ranah afektif) ? bukankah berita kriminal yang dilakukan oleh para pelajar kita lebih layak dipercaya sebagai tolak ukur kegagalan pendidikan karakter kita daripada Ujian Nasional ?
            Dari uraian di atas dapat dijabarkan beberapa hal diantaranya adalah :
1.      Permasalahan yang lebih besar dari permasalahan UN adalah  masalah pendidikan di Indonesia, mau dibawa kemana dan hendak kemana. Penulis beranggapan bahwa ada dua hal pokok yang menjadi permasalahan penting yang perlu dijawab oleh pendidikan kita. Pertama , masalah karakter yang semakin lama semakin tergerus dan yang kedua, adalah masalah pengangguran terdidik yang angkanya semakin membengkak. Di wilayah provinsi Bengkulu sendiri tercatat pada tahun 2012 pengangguran terdidik (Sarjana ) tercatat 3.600 Jiwa. Hal ini makin membengkak saat memasuki tahun 2015 dengan jumlah 11.500 jiwa dan agustus 2016 tercatat sebanyak 11.994 jiwa (Rakyat Bengkulu, jum’at 18 November 2016 hal 1). Untuk mengurangi angka pengangguran, tidak bisa kita hanya sekedar menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Jauh lebih dari itu, perlu dicetak wirausahaawan-wirausahawan muda yang membuka lapangan pekerjaan. Sayangnya pendidikan kita amat minim menyiapkan itu semua.
2.      Untuk mengatasi kesenjangan pendidikan antar daerah, perlu  klusterisasi pelaksanaan UN berdasarkan tingkat deliverance (penyampaian materi), ketersediaan sarana penunjang, dan indeks pembangunan manusia (IPM) daerah tersebut.
3.      Jika pelaksanaan UN menjadi momok bagi jatuhnya karakter dan mental kepala sekolah, guru, siswa salah satunya karakter jujur, maka sudah sepantasnya UN dicabut pelaksanaannya digantikan dengan Ujian Sekolah Berbasis Nasional. Perlu ditegaskan bahwa pembentukan karakter lebih diutamakan daripada kemampuan kognitif dan pengetahuan siswa.

Referensi


Asiah, Siti dan Ainur Rofiq. Analisis kebijakan ujian nasional tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). edukasi, 76 Vol. 3, No. 1, Maret 2011: 75 – 92

Chatib, Munif. 2011. Gurunya Manusia, Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara. Bandung : Kaifa

Kartowagiran, Badrun. 2005.  analisis kritis terhadap kebijakan pemerintah  dalam bidang evaluasi hasil belajar. Makalah untuk Dinamika

Rahmadi, Anton. 2014. Ujian Nasional : Sebuah Kebijakan yang tidak bijak. Makalah tidak diterbitkan




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Merri Sri Hartati.

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • PEREMPUAN By Jayaning Hartami
  • (tanpa judul)
  • Rasa Ini Membunuhku...
  • Ikhlas saja Belum Cukup
  • Anak....

Categories

  • inspirasi

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
      • ►  Des 25 (1)
  • ►  2019 (4)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 29 (1)
      • ►  Mar 28 (1)
      • ►  Mar 24 (1)
      • ►  Mar 16 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 29 (2)
  • ▼  2017 (10)
    • ▼  Maret (3)
      • ▼  Mar 12 (3)
        • Izinkan ku simpan kau dalam Diam ku
        • Anak....
        • Ikhlas saja Belum Cukup
    • ►  Januari (7)
      • ►  Jan 30 (1)
        • Tentang 1 Kata ..... RINDU
      • ►  Jan 29 (1)
        • Hanya Ingin Tahu
      • ►  Jan 27 (1)
        • Diam-diam Berdoa
      • ►  Jan 22 (1)
        • Wahai Ananda Bunda ...
      • ►  Jan 14 (1)
        • laki laki itu ....
      • ►  Jan 13 (1)
        • jadilah sperti ....
      • ►  Jan 08 (1)
        • UN kebijakan manusiawi atau Tidak ?
  • ►  2016 (28)
    • ►  Desember (5)
      • ►  Des 10 (2)
      • ►  Des 05 (1)
      • ►  Des 03 (1)
      • ►  Des 01 (1)
    • ►  November (8)
      • ►  Nov 30 (1)
      • ►  Nov 29 (1)
      • ►  Nov 26 (1)
      • ►  Nov 21 (3)
      • ►  Nov 20 (2)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 27 (1)
      • ►  Okt 17 (1)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 22 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 03 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 29 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 16 (1)
      • ►  Mar 10 (1)
      • ►  Mar 08 (1)
      • ►  Mar 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 23 (1)
      • ►  Feb 18 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 01 (1)
  • ►  2015 (13)
    • ►  Desember (6)
      • ►  Des 28 (1)
      • ►  Des 27 (2)
      • ►  Des 25 (1)
      • ►  Des 17 (1)
      • ►  Des 11 (1)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 29 (2)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 23 (2)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 09 (2)

Daftar Blog Saya

  • Historia Vitae Magistra
    SEJARAH DAN POLEMIK PENAFSIRAN MASA LALU

About Me


Merri Sri Hartati Bundanya Fatih, Syamsa & Aizh

Popular Posts

  • PEREMPUAN By Jayaning Hartami
  • (tanpa judul)
  • Rasa Ini Membunuhku...

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates