"Inspirasi SeBening Embun"
  • Home



Jadilah seperti Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun.
Jadilah laksana Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.
Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.

Duhai ananda Bunda Muhammad Fatih Ath-Thabari


#doacopasfbTikaDwiLestari





UN kebijakan manusiawi atau Tidak ?
Oleh : Merri Sri Hartati

 “Jangan menilai ikan dari cara ia memanjat pohon,
 jika demikian ikan tersebut akan merasa bodoh seumur hidupnya “
(Albert Einstein)
“ Padi tidak akan pernah dapat menghasilkan gandum” (Ki Hajar Dewantara)

            Manusia adalah makhluk hidup yang paling dinamis di muka bumi ini, selalu menciptakan hal-hal yang baru serta belajar pula hal-hal yang baru. Dalam pandangan agama Islam, manusia diciptakan dengan tujuan yang begitu luar biasa, menjadi Khalifatullah (Wakil Tuhan) diatas muka bumi ini. Dalam pandangan Kristen, manusia adalah citra Tuhan di muka bumi ini. Setidaknya semua agama bersepakat bahwa manusia diciptakan dengan sebuah tujuan yang besar, bukan sebuah kebetulan tanpa tujuan dan tanpa arah. Maka sejatinya pendidikan adalah sarana untuk mengarahkan manusia menjadi khalifatullah ataupun citra Tuhan yang baik di muka bumi ini. Atau secara ringkasnya tujuan pendidikan harus sejalur dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi.
            Kita manusia yang beriman pasti tahu bahwa Tuhan yang kita sembah apapun namanya adalah suatu entitas yang Maha Sempurna dan ia tidak pernah menciptakan sebuah produk gagal. Sesuatu yang kita pandang sebagai sebuah kegagalan atas ciptaan-Nya adalah kegagalan kita dalam memahami produk ciptaannya. Maka jika kita berangkat dari premis ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Hal ini disetujui oleh ilmuwan besar abad ini, Albert Einstein. Setiap anak cerdas, namun kitalah yang bodoh untuk menemukan dan memunculkan kecerdasan mereka.
            Howard Gadner, seorang sarjana dari Harvard university menyatakan bahwa manusia memiliki banyak kecerdasan dalam dirinya. Setidaknya ada delapan kecerdasan yang ia tuliskan diantaranya adalah : kecerdasan bahasa, kecerdasan musik, kecerdasan intra-personal, inter-personal, kecerdasan kinetik, kecerdasan sosial, self inteligence dan kecerdasan visual. Ketika kita bertanya mana yang lebih pintar Erwin Gutawa atau Habibie ? maka kita akan menjawab Habibie lebih pintar daripada Erwin Gutawa. Mengapa ? karena mindset kita dari zaman dulu sudah terbentuk seorang yang pintar adalah orang yang ahli dalam matematika dan logika. Padahal kita tahu Erwin Gutawa juga cerdas namun dalam bidang yang berbeda dengan Habibi yaitu musik.
            Celakanya inilah yang diadopsi oleh pengambil kebijakan kita dalam bidang pendidikan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional. Beberapa pelajaran dijadikan tolak ukur manusia itu sukses atau tidak, bodoh atau tidak, gagal atau tidak. Tentu saja ini tidak fair. Hal ini mengakibatkan mata pelajaran yang di UN kan mendapatkan porsi atau jam pelajaran yang besar. Sedangkan mata pelajaran seperti Seni dan Prakarya hanya mendapatkan jam pembelajaran yang sedikit sekali. Anak dijejali dengan berbagai macam ragam ilmu yang mungkin ia tidak tahu untuk apa ilmu ini di masa depan, dijejali dengan berbagai macam ragam teori seolah teori yang ia hafalkan itulah yang menjadi penentu masa depannya. Di sisi lain kita abai dengan hal yang paling urgen dalam pendidikan kita yaitu karakter. Karakter inilah yang lebih banyak menentukan sukses ataukah tidak anak didik kita selepas ia menjalani pendidikan nanti, bukan berapa banyak ilmu yang dihafalkannya yang kemudian lenyap tak berbekas.
            Maka penting sekali sebenarnya merenung kembali tentang pendidikan di Indonesia bukan dari UN nya justru dari hulu segala masalah yaitu apa hakikat pendidikan di Indonesia. Percayalah, dari buku setebal ratusan jilid yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara tidak akan kita temukan ukuran kesuksesan pendidikan adalah akademik belaka. Sebaliknya Ki Hajar lebih menekankan pada penanaman karakter siswa yang baik berbasis pada kearifan budaya ? jika bukan Ki Hajar yang kita ikuti dan kita dapuk sebagai Bapak pendidikan bangsa ini sesungguhnya siapa yang kita ikuti ?
            Pemerintah mengadakan UN setidaknya dengan berbagai macam alasan. Diantaranya adalah : (1) mengukur pencapaian hasil belajar siswa, (2) mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah, dan (3) mempertanggungjawabkan penyelenggaran pendidikan secara nasional, provinsi, kabupaten/kota, sekolah, kepada masyarakat. (Kartowagiran, 2005 : 8). Dalam PP. no. 19/2005, Pasal 68 disebutkan bahwa hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (i) pemetaan mutu program dan/satuan pendidikan (ii) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (iii) penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, dan (iv) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.(Asiah & Ainur Rofiq, 2011 : 76).
            Secara garis besar kebijakan mengenai Ujian Nasional, tertuang dalam peraturan-peraturan berikut ini :
1.      Keputusan Mendiknas Nomor 012/U/2002 tentang Sistem Penilaian di Sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa Tingkat Dasar, dan Madrasah Ibtidaiyah pasal 3 ayat (1) menyebutkan bahwa jenis penilaian di sekolah terdiri dari penilaian kelas dan ujian. Dalam ayat (3) disebutkan bahwa penilaian dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan/praktek, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja siswa (portfolio). Selanjutnya dalam ayat (4) pasal 3 itu juga dijelaskan bahwa penilaian kelas dan ujian meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.      Dalam ayat (2) pasal 58 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan 4 bahwa evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.
3.      ayat (3) pasal 3 Kep. Mendiknas Nomor 012/U/2002 yang menyatakan : Penilaian dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan/praktek, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja siswa (portfolio).
4.      ayat (1) pasal 58 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. (Kartowagiran, 2005 : 3-4)
      Ciri-ciri yang harus dimiliki setiap kebijakan, menurut Terry adalah bahwa setiap kebijakan yang ditetapkan haruslah:
a)      Jelas rumusan dan batasbatasnya (clarity);
b)       Luwes dalam penggunaan (flexibility), namun tidak melanggar prinsip;
c)      Konsisten (consistency), konsekuen, tidak berubah-ubah;
d)     Individualitas (individuality), Dalam arti setiap kebijakan hanya untuk memecahkan masalah tertentu saja.
(Terry  , 1963 : 187)
            Kebijakan pemerintah merupakan suatu kerangka yang di dalamnya terdiri dari keputusan-keputusan. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kalau perlu dalam pelaksanaannya dapat dipaksakan. Adapun proses analisis kebijakan dilakukan secara bertahap melalui:
a.       Perumusan kebijakan (policy formulation)
b.      Pelaksanaan kebijakan (policyiimplementation)         
c.       Penilaian kebijakan (policy evaluation)
d.      Pengakhiran kebijakan ( Ibnu Syamsi dalam Asiah dan Asiah & Ainur Rofiq, 2011 : 79)
            Dalam Studi Analisis Kebijakan Publik, maka salah satu cabang bidang kajiannya adalah Evaluasi Kebijakan. Mengapa Evaluasi Kebijakan dilakukan, karena pada dasarnya setiap kebijakan negara (public policy) mengandung resiko untuk mengalami kegagalan. Abdul Wahab mengutip pendapat Hogwood dan Gunn (1986), selanjutnya menjelaskan bahwa penyebab dari kegagalan suatu kebijakan (policy failure) dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: (1) karena “non implementation” (tidak terimplementasi), dan (2) karena “unsuccessful” (implementasi yang tidak berhasil). (Wahab, 1990 : 47-48)
            Tidak terimplementasikannya suatu kebijakan itu berarti bahwa kebijakan itu tidak dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan. Sedangkan implementasi yang tidak berhasil biasanya terjadi bila suatu kebijakan tertentu telah dilaksanakan sudah sesuai rencana, dengan mengingat kondisi eksternal ternyata sangat tidak menguntungkan, maka kebijakan pendidkan tersebut tidak dapat berhasil dalam mewujudkan dampak atau hasil akhir yang telah dikehendaki. Biasanya kebijakan yang memiliki resiko untuk gagal disebabkan oleh faktor-faktor diantaranya: pelaksanaannya jelek (bad execution), kebijakannya sendiri itu memang jelek (bad policy) atau kebijakan itu sendiri yang bernasib kurang baik (bad luck). Adapun telaah mengenai dampak atau evalausi kebijakan adalah, dimaksudkan untuk mengkaji akibatakibat dari suatu kebijakan atau dengan kata lain untuk mencari jawaban apa yang terjadi sebagai akibat dari pada “implementasi kebijakan”. (Wahab, 1990 : 62)
            Dalam hal Ujian Nasional (UN), pemerintah secara tekhnis memandang dari angka – angka yang disodorkan dan hanya berfokus pada input data yang masuk mengenai hasil Ujian Nasional. Namun pemerintah seringkali abai dengan melihat proses menuju Ujian Nasional, sehingga Ujian Nasional dipandang sebagai titik puncak pendidikan yang menentukan sukses atau tidak anak didik.  Padahal tujuan sesungguhnya adalah evaluasi pendidikan secara menyeluruh termasuk dalam tahap proses. Kebijakan UN memberikan pressure terhadap kementerian Pendidikan Nasional yang kemudian berimbas pada Diknas kota, kepala sekolah dan berakhir pada guru. Hal ini terlihat dari kecurangan-kecurangan yang terjadi di lapangan dimana menyebarnya kunci Ujian Nasional serta munculnya tim “pensuksesan” Ujian Nasional di masing-masing sekolah. Di sisi lain, guru melakukan pengkatrolan nilai raport siswa yang jelas-jelas hal ini merupakan perbuatan yang tidak fair. Jadilah Ujian Nasional yang awalnya merupakan evaluasi pendidikan berubah menjadi semacam pressure “harus sukses dengan cara apapun”. Belum lagi pelaksanaan Ujian Nasional yang bermasalah. Data mencatat di tahun 2014 pelaksanaan UN terkesan amburadul. Dimana soal Ujian Nasional terlambat dan kurang bahkan ada yang di foto Copy. Hal ini menyebabkan beredar luasnya kunci jawaban di tengah-tengah para siswa ( Rahmadi, 2014 : 3).
            Dari Keputusan Mendiknas Nomor 012/U/2002 pasal 3 ayat 1 dinyatakan bahwa penilaian tidak hanya berfokus pada ranah kognitif semata namun juga penilaian berdasarkan psikomotor dan afektif. Namun, bentuk tes adalah tes tertulis, tes lisan, tes perbuatan/praktek, pemberian tugas, dan kumpulan hasil kerja siswa (portfolio). Bisakah penilaian afektif diberikan berupa angka-angka ?. Maka menurut penulis terjadilah semacam paradoks. Dus, kenyataannya pun yang penulis temui di lapangan, guru lebih menguji kemampuan kognitif siswa daripada afektif siswa.
            Salah satu masalah dari Ujian Nasional adalah standarisasi pendidikan. UN tidak akan pernah ideal jika proses pembelajaran juga tidak ideal ( Rahmadi, 2014 : 1). Kondisi pendidikan di jakarta berbeda dengan kondisi pendidikan di Bengkulu, baik di tingkat sarana dan prasarana, kualitas guru dan proses pembelajaran yang berlangsung. Dengan kondisi seperti ini apakah akan disamakan standarisasinya ? Lalu jika UN dinilai mampu untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia, apakah ia mampu pula memetakan karakter siswa (ranah afektif) ? bukankah berita kriminal yang dilakukan oleh para pelajar kita lebih layak dipercaya sebagai tolak ukur kegagalan pendidikan karakter kita daripada Ujian Nasional ?
            Dari uraian di atas dapat dijabarkan beberapa hal diantaranya adalah :
1.      Permasalahan yang lebih besar dari permasalahan UN adalah  masalah pendidikan di Indonesia, mau dibawa kemana dan hendak kemana. Penulis beranggapan bahwa ada dua hal pokok yang menjadi permasalahan penting yang perlu dijawab oleh pendidikan kita. Pertama , masalah karakter yang semakin lama semakin tergerus dan yang kedua, adalah masalah pengangguran terdidik yang angkanya semakin membengkak. Di wilayah provinsi Bengkulu sendiri tercatat pada tahun 2012 pengangguran terdidik (Sarjana ) tercatat 3.600 Jiwa. Hal ini makin membengkak saat memasuki tahun 2015 dengan jumlah 11.500 jiwa dan agustus 2016 tercatat sebanyak 11.994 jiwa (Rakyat Bengkulu, jum’at 18 November 2016 hal 1). Untuk mengurangi angka pengangguran, tidak bisa kita hanya sekedar menyiapkan tenaga kerja siap pakai. Jauh lebih dari itu, perlu dicetak wirausahaawan-wirausahawan muda yang membuka lapangan pekerjaan. Sayangnya pendidikan kita amat minim menyiapkan itu semua.
2.      Untuk mengatasi kesenjangan pendidikan antar daerah, perlu  klusterisasi pelaksanaan UN berdasarkan tingkat deliverance (penyampaian materi), ketersediaan sarana penunjang, dan indeks pembangunan manusia (IPM) daerah tersebut.
3.      Jika pelaksanaan UN menjadi momok bagi jatuhnya karakter dan mental kepala sekolah, guru, siswa salah satunya karakter jujur, maka sudah sepantasnya UN dicabut pelaksanaannya digantikan dengan Ujian Sekolah Berbasis Nasional. Perlu ditegaskan bahwa pembentukan karakter lebih diutamakan daripada kemampuan kognitif dan pengetahuan siswa.

Referensi


Asiah, Siti dan Ainur Rofiq. Analisis kebijakan ujian nasional tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). edukasi, 76 Vol. 3, No. 1, Maret 2011: 75 – 92

Chatib, Munif. 2011. Gurunya Manusia, Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara. Bandung : Kaifa

Kartowagiran, Badrun. 2005.  analisis kritis terhadap kebijakan pemerintah  dalam bidang evaluasi hasil belajar. Makalah untuk Dinamika

Rahmadi, Anton. 2014. Ujian Nasional : Sebuah Kebijakan yang tidak bijak. Makalah tidak diterbitkan




Bismillah....
“kalau cinta  bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu. Terbang dan kepakkan sayapmu, seluas angkasa biru." —kata Kahlil Gibran.
Namun bisa difahami bersama, bahwa rasa tidak benar-benar bertepuk sebelah tangan atau sebaliknya jika belum diutarakan. Sementara mengungkapkan rasa, bermakna tanggungjawab yang besar dan sangat besar.


Tulang rusuk yang salah tentu tidak akan tepat jika dipaksakan. Bisa patah atau bahkan mengalami kecacatan.
RNA ini sejatinya belum mampu berproses menjadi DNA untuk sebuah penyatuan. Karena pengkodean yang ada salah copy.
Dalam sebuat teori fisika, kutub yang sama tentu saja tidak akan saling tarik menarik. Justur kutub yang berbedalah yang akan saling tarik menarik. 


TAK ADA ALASAN APAPUN UNTUK MENGAKHIRI SEBUAH SILATURAHIM, 
semoga Sahabat semua akan segera dipertemukan dengan tulang rusuk yang pas dan juga tepat. Tidak hanya tepat secara anatomi, namun juga tepat secara waktu dan pas dengan yang telah di takdirkan.

Wassalamualaikum
Yogyakarta, 10 Mei 2016

Salam silaturahim.


segel ganda "kemaluan dan mata", demikian menurut Al Imam As Suyuthi, "dikancing Allah dengan masing-masingnya sepasang anggota badan. kemaluan dengan sepasang kaki, dan mata dengan sepasang kelopak". "tapi lisan dikunci Allah dengan segel ganda. sepasang bibir sekaligus sepasang deretan gigi diatas gusi. sebab betapa banyak manusia ditelungkupkan ke dalam jahannam hanya oleh lisannya. karena katakatanya." maka benarlah Imam Asy Syafi'i. " apa yang tangan kita tak terlibat didalamnya, jangan sampai lisan kita berdosa karenanya." di dunia nyata dan maya, ada banyak hal yang menarik untuk ditanggapi. tapi cerdaslah memutuskan; kata-kata atau justru diam kita yang akan mengantar ke surga. (Salim Afillah)


Palu Menghancurkan Kaca, Tetapi Palu Membentuk Baja
Apa makna dari pepatah kuno diatas?
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu/masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan.
Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain.
Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja. “Mental baja” adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya.
Mengapa demikian? Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa “masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik”. Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu.
Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yg bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!
Jika kita adalah “baja”, kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya jika kita “kaca” maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.
Dari fp dakwah islam.
Semoga renungan ini bermanfaat..
#ntms
#selfreminder

ilmuwan muslim terdahulu medasari sebuah penelitian sains nya dengan syariat. bahwa ini adalah bentuk dari fardhukifayah. bagaimana memberikan sebaik-baik manfaat

maka jika saat ini kita ingin melakukan riset...
mari luruskan niat
tinjau sisi syariatnya
tinjau manfaatnya
niatkanlah ini sebagai fardhu kifayah
Untuk saudari shaliha ku

Saudariku.....
Sesungguhnya kejadianmu terlalu unik
Tercipta dari tulang rusuk Adam yang bengkok menghiasai taman-taman indah
Lantas menjadi perhatian sang kumbang.

Kau umpama sekuntum bunga
Harum aromamu bisa menarik perhatian sang kumbang untuk mendekatimu

Namun.....
Tidak semua bunga senang untuk didekati oleh sang kumbang
Lantaran duri yang memagari dirinya umpama mawar
Dari kejauhan sudah tercium akan keharumannya
Serta kilauan warnanya yang memancar indah
Mengundang kekaguman terhadap sang kumbang
Tapi awas duri yang melingkari
Bisa membuatkan sang kumbang berfikir beberapa kali untuk mendekatinya

Saudariku.....
Aku suka sekiranya kau seperti mawar
Yang tercermin pada setiap diri mujahidah
Bentengilah dirimu dengan perasaan malu
Yang bertiangkan rasa keimanan
Dan keindahan taqwa kepada Allah

Hiasilah wajah mu dengan titisan wudhu
Ingatlah bahwa ciri-ciri seorang wanita solehah
Ialah ia tidak melihat kepada lelaki
Dan lelaki tidak melihat kepadanya.

Sesuatu yang tertutup itu lebih berharga
Jika dibandingkan dengan sesuatu yang tampak
Umpama sebutir permata yang dipamerkan buat perhatian umum dengan permata yang diletakkan dalam satu tempat yang tertutup
Sudah pastinya keinginan untuk melihat permata yang tersembunyi itu melebihi daripada yang terlihat.

Wanita solehah yang taat dan patuh pada Al Khaliq dalam melayari liku-liku kehidupannya
Adalah harapan setiap insan yang bernama Adam......

Namun ...........
Ianya memerlukan pengorbanan dan mujahadah yang tinggi
Karena ianya bercangkang nafsu
Serakah materi yang bersarang dalam dirinya
Lebih-lebih lagi atribut gadis modern yang ianya miliki
Sudah pastinya darah mudanya memudarkan rasa keimanan yang ada
Maka berhatilah saudariku

Namun ingatlah saudariku....
Sesiapa yang inginkan kebaikan
Maka Allah akan memudahkan baginya jalan-jalan kearah itu
Yang Penting saudariku engkau mesti punyai azam, usaha dan keistiqomahan

Saudariku.....
Akuilah hakikat dirimu
Menjadi fitnah kepada kebanyakan lelaki
Seandainya pakaian malumu kau tanggalkan dari tubuhmu maka sudah tidak ada lagi perisai yang dapat membentingimu...

Sesungguhnya nabi mengatakan tentang bahaya dirimu
" Tidak ada suatu fitnah yang lebih besar yang lebih bermaharajalela selepas wafatku
terhadap kaum lelaki selain fitnah yang bersumber daripada wanita"

Oleh itu saudariku
Setiap langkah dan tindakanmu
Hendaklah bermanhajkan kepada Al Quran dan As Sunnah
Jangan biarkan orang lain mengeksploitasikan dirimu untuk kepentingan tertentu

Sesungguhnya Allah telah mengangkat
martabatmu sebaris dengan kaum Adam

Kau harapan ummah dalam melahirkan
Para mujahid dan mujahidah
Yang bisa menggoncangkan dunia dengan sentuhan lembut tanganmu.....

Saudariku...
Dalam hidupmu pastinya
Ingin disayangi dan menyayangi
Itulah fitrah setiap insani
Namun banyak diantara kamu yang terbutakan karena cinta...
Bercinta itu tidak salah
Tapi memuja cinta itu yang salah
Karena cinta buta manusia sanggup menjual agama
Dan karena cinta buta tergadai harga dirimu
Gejala murtad serta keruntuhan moral muda mudi sebahagian
besarnya kerana sebuah cinta
Iya, itulah cinta buta
Itulah cinta akan nafsu
Itulah lilitan kecintaan terhadap dunia
Saudariku..... maka sadarilah

Benarlah sabda Rasulullah SAW
"Sesungguhnya cinta itu buta"
cinta itu mampu membutakan mata dan
hatimu dalam membedakan
perkara yang hak dan yang batil
apabila kau meletakkan cinta
itu atas dasar nafsu dan tidak karena
Allah SWT...

Sebelum kau mendekati cinta,
cintailah dirimu terlebih dahulu,
mengkaji hakikat kejadianmu yangbegitu simbolik,
yang berasal daripada setitis air yang tak berharga
lalu mengalami proses pembentukan yang direncanakan oleh Allah..

Semoga disana mampu melahirkan rasa
keagungan dan kehebatan
terhadapNya dan timbul rasa cinta dan
kasih pada Penciptamu...
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang rela bangun dini hari, memompa ASI sekaligus siapkan sarapan pagi. Lalu saat matahari sedikit meninggi, mereka melangkahkan kaki untuk pergi. Berkontribusi lewat kerja kerja yang menggerakkan perekonomian negeri ini..
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang memutuskan tidak bekerja, lalu menghabiskan hari harinya bersama anak dan pekerjaan rumah tangga. Dengan sederet potensi dan prestasinya di masa lalu, cukup baginya ditukar dengan tawa dan pelukan dari para makhluk kecil di tengah tumpukan baju, kompor menyala, serta sudut sudut rumah yang belum tersapu..
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang tidak putus mengejar ilmu. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi agar kelak anak paham bahwa tak ada yang lebih menundukkan hati dibandingkan mengetahui betapa kerdilnya ilmu yang kita miliki.
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang bersetia melayani suami dengan sebaik baiknya. Bukan tentang rendahnya peran, tetapi bagi mereka menjaga pandangan suami adalah hal yang sungguh menyenangkan. Perempuan semacam ini sungguh mengajarkan keikhlasan. Menjadikan rumah sebagai syurga sebelum syurga sebenarnya yang dicita citakan..
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang berani bangkit melawan, ketika suami tak henti main tangan. Meski dipenuhi ketakutan, ia paham betul ada ketentraman jiwa anak yang mesti diselamatkan. Malam malamnya mungkin dipenuhi pikiran, bagaimana hidup ke depan. Tapi ia tahu. Ia yakin. Pada Allah-lah sebaik baik penjagaan..
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang berusaha bergerak maju, setelah pernikahannya dihancurkan oleh pengkhianatan. Tak perlu baginya sibuk berkutat dengan aib mantan, atau sampai sibuk menyindir bersahutan. Karna apapun itu, tak akan mengubah keadaan. Karna diantara dirinya dan sang mantan, ada anak kecil yang berhak atas kebahagiaan..
Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang dulu tersakiti masa kecilnya. Mungkin omelan, sering juga sabetan. Atau perkataan buruk dari Ayah Ibu yang hingga kini di kepalanya tak henti bersahutan. Tapi baginya, cukup semua sakit itu berhenti padanya. Ia punya sejuta alasan untuk marah, tapi memilih memaafkan. Karena anak anaknya, berhak mendapatkan sosok ibu dengan versi terbaik dari dirinya..
Sungguh, Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang bersungguh sungguh pada apa yang dikerjakan. Ia sibuk memperbaiki diri, juga kualitas dengan keluarga dan lingkungannya sendiri.
Tak ada waktu baginya untuk mencemooh apalagi nyinyir pada pilihan hidup orang lain. Karena ia tahu, setiap orang punya perjuangannya sendiri, yang mungkin tidak ia pahami.
Aku sungguh melihat perempuan-perempuan pejuang,
Pada mereka yang menyibukkan diri pada kebaikan. Pada mereka yang terus menata ikhlas pada peran yang saat ini dimainkan.
Ia bahagia dengan apa yang dipilihnya, sehingga tak pernah butuh merendahkan peran orang lain, hanya untuk membuat dirinya terlihat berharga..
Perempuan perempuan semacam ini yang akhirnya membuat saya paham, mengapa pada mereka syurga itu diletakkan..
  • https://www.facebook.com/jayaning.hartami/posts/10209859122107266 
tak ada satu insanpun dibumi ini sekalipun memag salah, namun tetap saja sifat pembelaan bahkan pembenaran itu selalu diupayakan hanya saja cara setiap masing-masing orang berbeda satu sama lain.

sejatinya tak ada makhluk yang diciptakan dengan sia-sia. begitupun kita secara individu. ya... kita sejatinya makhluk yang diciptakan untuk sebaik-baik memberi manfaat kepada semua makhluk Yang Maha Pencipta lainnya.

adakalanya kita terjatuh, jatuh yang tanpa seorangpun disekitar kita yang mengetahui , maka jangan salahkan jika mereka terkesan tak peduli. karena boleh jadi kita juga berjuang menyembunyikannya.

luka itu pasti ada.... kita bukan tercipta untuk tumbuh kokoh taanpa goresan fisik maupun batin.

saat terjatuh,,,, saat sendiri....
yang terasa ialah terasing dalam keramaian
sepi di kerumunan masa
ya.... suatu rasa yang disebabkan kita tidak mengenal sekitar dan sekitar kitapun tak mengenali kita

kita.... bukan makhluk sempurna.
tak ada manusia yang sempurna, maka jangan khawatir saat fisikmu pas-pasan karena yang sempurna fisik pasti punya sisi kekurangan yang mungkin tak bisa kita ketahui.

namun yang kita harus fahami...
banyaknya makhluk di jagad raya ini....
memberikan kesadaran bahwa sejatinya kita...
laksana butiran debu ... yang jika sendiri tentu saja tak kan bisa diketahui mata. meski mampu membuat mata menangis karena kena debu. namun orang tidak akan bilang karena terkena sebutir debu. ia tak terlihat.

kita laksana buih dilautan lepas ....
tak berarti... namun sesuatu yang tak berarti tanpa disadari bisa menghanyutkan... ya menghanyutkan yang kita lewati.

daun yang gugur pun seperti tak berarti ...
terbawa angin kesana kemari...
tapi ... jangan menyerah
daun yang gugur masih punya fungsi menyuburkan bumi

jangan bersedih jika diibaratkan sebutir debu.. karena ia mampu menyebabkan air mata.
jangan bersedih jika diibaratkan buih dilautan....karena ia mampu menghanyutkan benda disekitarnya
jangan bersedih jika diibaratkan daun yang gugur ... karena ia masih mampu menyuburkan bumi.

mari memotivasi diri sekecil apapun yang mampu kita lakukan untuk menjadi sebaik-baik manfaat.
karena tak ada yang tercipta sia-sia


hemmm
tahu apa kamu soal rindu....
bukannya kamu hanya tahu lembar demi lembar
deret demi deret kata yang terjajar rapi berparagrap dalam setiap buku buku mu dari yang tebal bak bantal hingga yang tipis bagai tak berlembar.

tahu apa kamu tentang rindu
jika hatimu saja sedemikian beku
dingin
bagai tak tersapa sinar mentari
seperti malam yang tersapu rembulan digelap malam

tahu apa kamu soal rindu
jika gersang bumi
tak sedkitpun hujan ingin singgah menghampiri

tahu apa kamu soal rindu
jika dinding itu sedemikian tebal
hingga tak mampu mata ini menatap
sedemikian tebal bahkan mengalahkan kabut yang murka dikala letusan merapu menyapa

tahu apa kamu sola rindu
jika semilir angin yang menghampiri saja tak mampu kamu rasakan

kamu...
ya kamu...
yang hadir sesukamu
begitupun pergi sesukamu
seperti tk ada arti dan makna akan sebuah pertemuan.

kamu...
ya kamu...
yang menyunggingkan senyum
menorehkan luka
perihhhh
jauh lebih perih dari sebuah sembilu sekalipun

kamu....
ya kamu....
yang tak banyak tahu perkara hati
mungkin karna hatimu terlalu sepi
atau... terlalu lama menyepi

kamu...
ya kamu...
tahu apa kamu soal rindu


rindu....
tak semuanya harus berujung temu
tak semua pertemuan melebur ridu....
yang ada hanya sekedar menambah duka
duka atas pertemuan yang sesaat
dan perpisahan yang jauh lebih lama

kamu...
ya kamu...
kamu terlalu sedikit faham
namun seolah mau menyelesaikan semuanya

kamu ..
ya kamu...
berserakan kalimat
tersapu angin
terbawa semilirnya dikala senja
seperti kapas yang ringan
seperti dedaunan yang kering
seperti kertas yang tercabik

terbanglah jika memang kamu tak bisa berhenti untuk waktu yang lama
jika hanya singgah sejenak, selayaknya menikmati kopi panas,
akan berlalu kala dingin menghampiri


Yogyakarta
27 November 2016

langit birunya tengah kelabu
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Merri Sri Hartati.

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • MENULIS KEBAIKAKAN
  • Berbaik Sangka, Berdamai dalam kebaikan
  • (tanpa judul)
  • Kendaraan Berbeda dengan Tujuan yang sama
  • Menumpuk Rindu
  • ini tentang Rindu "Muhammad Fatih Ath-Thabari"
  • laki laki itu ....
  • warna warni
  • (tanpa judul)
  • PEREMPUAN By Jayaning Hartami

Categories

  • inspirasi

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  Desember (1)
      • ▼  Des 25 (1)
        • Sampah dan Objek Wisata Pantai Zakat Bengkulu25 De...
  • ►  2019 (4)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 29 (1)
      • ►  Mar 28 (1)
      • ►  Mar 24 (1)
      • ►  Mar 16 (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 29 (2)
  • ►  2017 (10)
    • ►  Maret (3)
      • ►  Mar 12 (3)
    • ►  Januari (7)
      • ►  Jan 30 (1)
      • ►  Jan 29 (1)
      • ►  Jan 27 (1)
      • ►  Jan 22 (1)
      • ►  Jan 14 (1)
      • ►  Jan 13 (1)
      • ►  Jan 08 (1)
  • ►  2016 (28)
    • ►  Desember (5)
      • ►  Des 10 (2)
      • ►  Des 05 (1)
      • ►  Des 03 (1)
      • ►  Des 01 (1)
    • ►  November (8)
      • ►  Nov 30 (1)
      • ►  Nov 29 (1)
      • ►  Nov 26 (1)
      • ►  Nov 21 (3)
      • ►  Nov 20 (2)
    • ►  Oktober (2)
      • ►  Okt 27 (1)
      • ►  Okt 17 (1)
    • ►  September (2)
      • ►  Sep 22 (2)
    • ►  Agustus (2)
      • ►  Agu 03 (2)
    • ►  Juli (2)
      • ►  Jul 29 (1)
      • ►  Jul 25 (1)
    • ►  Maret (4)
      • ►  Mar 16 (1)
      • ►  Mar 10 (1)
      • ►  Mar 08 (1)
      • ►  Mar 03 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 23 (1)
      • ►  Feb 18 (1)
    • ►  Januari (1)
      • ►  Jan 01 (1)
  • ►  2015 (13)
    • ►  Desember (6)
      • ►  Des 28 (1)
      • ►  Des 27 (2)
      • ►  Des 25 (1)
      • ►  Des 17 (1)
      • ►  Des 11 (1)
    • ►  November (2)
      • ►  Nov 29 (2)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 07 (1)
    • ►  Februari (2)
      • ►  Feb 23 (2)
    • ►  Januari (2)
      • ►  Jan 09 (2)

Daftar Blog Saya

  • Historia Vitae Magistra
    SEJARAH DAN POLEMIK PENAFSIRAN MASA LALU

About Me


Merri Sri Hartati Bundanya Fatih, Syamsa & Aizh

Popular Posts

  • MENULIS KEBAIKAKAN
  • Berbaik Sangka, Berdamai dalam kebaikan
  • (tanpa judul)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates